Sunrise di Desa tertinggi di pulau Jawa
Selamat pagi, malam, siang, sore. Tergantung lo bacanya kapan. Yang jelas, selamat tahun baru! Kali ini, gue mau mau cerita, maksudnya singkat cerita aja. Soalnya gue ngantuk di jam sebelas malam ini, bukannya main gue kurang malam. Waduh. Cerita apaansih? Ya lo liat aja tulisan terakhir di blog ini kapan. Untuk yang belum tahu, sebenarnya tulisan gue disini ini gimana gue, yaiyalah yang ngurus gue. Maksudnya, biasa gue tulis kalau gue lagi sedih, atau mau buat anak orang baper, dan mikirin hidup dengan serius. Tapi gak juga bro & sis. Lah, kok jadi kayak iklan si "udah? udah? ...", kadang gue juga coba jadi orang lain. Dalam artian baik ya. Contoh, temen gue curhat sama gue, masalah doinya, dan bagi gue udah kayak sinetron ceritanya. Gue coba untuk jadiin tulisan, dalam sudut pandang tokoh utama atau doi nya itu. Biar menginspirasi dan ada hikmahnya, eh atau malah tambah sedih? biarlah, kadang kita butuh bersedih, bosan, lalu cari yang namanya bahagia. Ya intinya kenyataan yang gue fiksi-fiksi kan, ngayal. Jadi jatuhnya ambigu, tapi tetap bisa bikin yang baca ngerasain. Kalau emang dia pas banget pernah atau bahkan sedang ngalamin. Perkara nama blog ini menjual nama gue. Ya pastinya secara keseluruhan adalah pengalaman atau apa yang gue rasain. Intinya, gue buat sesuka-suka gue, ambigu. Harapan gue, pas baca tulisan-tulisan di blog ini, terlebih soal cinta-cintaan, jangan dihubungin sama gue. Tapi anggep aja lo gatau siapa yang nulis. Wkwkw.

Kenapa gajelas begini? Ya lo cek aja disini. Perbedaan blog dan website.

Di 2019, sesekali gue cuman cek blog ini. Tanpa gue maknai dan niati. Hanya sekedar, "Masih aman". Masih kebuka kali ye. Atau emang gue sibuk bahagia jadi kagak ada inspirasi buat nulis, masa gue sedih-sedihin diri biar jadi tulisan. Walau kadang emang iya. Lol. Di 2019 kemarin, banyak hal yang harus gue urusin. Tapi gue mensyukuri itu, dibalik blog ini jarang ada yang lihat selain teman-teman gue sendiri, gue coba untuk belajar banyak hal yang berefek baik bagi gue sekarang dan juga kedepannya. Harusnya. Walau gue belajar tulis menulis pas sekolah pelajaran Bahasa Indoenesia atau otodidak. Tapi gue tertarik mendalaminya, kalaupun cara penulisan yang baiknya belum baik, minimal pemilihan kata yang menarik. Minimal lagi, gue bahagia. Itu lebih penting. Gue belajar nulis berita juga script karena ngebantu dosen gue yang punya projekan. Gue juga harus nyelesein skripsi. Yang walau gue harus liburan sebulan dan ngerjain beberapa bab dalam waktu ga sampe seminggu, yang penting selesai. Ketika skripsi jadi momok tersendiri, tapi kalau kita niati apalagi dengan bahasan yang kita sukai. Menurut gue, inspirasi bakal jalan terus. Eh iya, ujung-ujungnya kan gimana dosbim tapinya. Kalau liat baiknya, skripsi itu membuat kita semakin bisa menulis. Ngetik deng, kan di laptop. Emang ada yang ngerjain skripsi, ditulis tangan? Hahaa.

Orang punya ketertarikan nya gak cuman satu bidang, sama kayak gue. Gue juga suka yang lain, kayak touring motor, ngoprek hp dan lain sebagainya. Kalem, ngoprek hp? Cari di Google bro dan sis. Semua ketertarikan gue itu, gue coba adil menjalaninya. Dan ga ada yang bosen ataupun nambah. Itu itu aja. Kalau nambah yang sesaat namanya apa ya. Ya, tapi pada akhirnya udah jalannya pasti ada yang tersisihkan apalagi secara spesifik. Contoh, lo suka naik motor, sebenernya moge. Eh kok malah jadi mocil. Tahun 2019 juga seperti itu, karena kurang lebih tahun sebelumnya lagi gue masukin semua tulisan di blog ini. Gue filter tentang cinta-cintaan, mau sedih kek mau bahagia ke word, print dan jilid. Buat gue liatin ke penerbit, buat gue jadiin buku. Judulnya "Racikan Kata" dengan logo hati mendampingi. Cover pink, seunyu itu memang. Sebenernya gue ga seniat itu, jadiin postingan blog ini buku, tapi juga punya pede. Dan mau belajar, gue pengen tau reaksi editor baca naskah gue. Jadi, gue bisa nulis lebih baik lagi. Kenyatannya? Gue kagak belajar, gue down parah. Bukan karena tulisan gue dihina dengan kata kasar atau mirip-mirip sama skripsi yang dibimbing sama dosen killer. Tapi, karena pas ada buku lain yang lagi naik cetak. Mirip sama gue! Mirip disini ga sedetil itu ya, tapi temanya. Cinta-cintaan, bukan novel, tapi apa namanya menurut lo. Liat postingan gue yang dulu. Gue disitu, cuman diem dan coba untuk menggali informasi ke editor. Yang baik-baik buat gue kedepannya, secara penulisan, cara berpikir, cari inspirasi dan lain sebagainya. Gue pamit, dan pernyataan gue yang terakhir ke editor. "Semoga saya bisa kesini lagi, bawa naskah yang lebih baik." Dan ternyata, gue hilang dari peradaban, nulis-nulis tentang tema cinta, apalagi yang galau. Gue tau, gue gak seniat itu. Tapi apa ada takaran orang itu niat apa engga? Tiap orang pasti berbeda menilainya. Padahal, ada cari lain, print buku sendiri tanpa penerbit. Taro diem-diem bukunya dimanapun, termasuk di toko buku :).

Salah satu faktor yang membuat tahun 2019 gue itu punya pelajaran yang lebih adalah karena kejadian itu. Gue tutupin rasa sedih gue bukan dengan mempraktekkan langsung secara teknis, tapi hobi atau ketertarikan lain gue jalani juga. Cukup berhasil, namun tetap mimpi tentang buku itu masih terlintas, walau dengan nyala kecil. Termasuk gue akhirnya punya goal bagi diri gue, yang pasti tidak semua orang mengerti. Ia juga mimpi, dimana gue pengen keluar dari domisili gue di Jawa Barat. Pake motor, sekali lagi. Pake motor. Kalau Jabodetabek mah udah. Gue touring sama temen gue ke Yogyakarta dan Dieng di Wonosobo, gue punya pengalaman menulis tulisan jenis lain dan lebih lain yang harus gue ciptaiin sendiri. Tapi kerasa gak? Semakin hari, banyak ketertarikan kita sama sesuatu tuh, kita lebih sulit melakukannya bersamaan. Apa karna faktor U? Wwkwkwk. Punya banyak kegiatan yang kita suka, tapi lama-lama kita sadar, akan ada pemenangnya. Akan ada yang paling dominan, setidaknya bagaimana lo dikenal sama orang sebagai siapa. Pada akhirnya, akan ada sedikit atau bahkan satu bidang yang kita gak akan bosan larut didalamnya, walau sekedar terlintas. Bahkan buat gue aja, gue selalu menulis. Bagi gue, berpikir saja menulis. Hanya saja yang belum dituang dalam kata. Bagi gue, apapun huruf yang dirangkai jadi kata itu adalah tulisan. Tidak hanya di blog ini, di medsos juga. Cuitan di Twitter, caption Instagram. Sampai, tulisan curhat panjang di Insta Story yang kadang jadi viral. Yang jelas bukan postingan gue yang viral. Gue touring, bisa menghasilkan sebuah cerita, kata-kata sok bijak. Yang saat sebuah perjalanan dimulai, bukan hanya soal senang-senang, tapi juga membawa diri untuk mengarungi apa yang menjadi tuju. Kedepannya, gue harap waktu yang ada termanfaatkan dengan lebih baik lagi. Untuk kita semua, di 2020 yang tulisan angkanya keren ini. Semakin membuat kita produktif dan melakukan hal apapun, yang kita sukai dengan sebuah makna. Amin. Intinya semakin bertambahnya usia, ada sudut pandang baru tercipta di mata, otak dan hati kita. Tentang bagaimana kita sadari kadang sesuatu itu "sama" hanya saja dengan konsep yang berbeda. Tinggal kita tentukan, apa itu sebuah pelarian yang baik, atau jebakan. Sedangkan semua hal yang kita sukai, bisa kita satukan dalam satu kegiatan. Itu pilihan. Tidak ada yang tahu, selain merasakannya sendiri dengan sadar dan sabar.

Perjalanan Menuju Dieng

Perjalanan Menuju Yogyakarta

Pada akhirnya, gue punya kesimpulan dalam bentuk quotes. Kayaknya.

Setiap orang bisa melakukan apa yang kita bisa, tapi tidak semua orang niat dan mau terjun didalamnya. 
Satu lagi.
Kadang, kita hidup lebih baik karena kecewa yang datang. 
Terima kasih, yang mau membaca ini sampai akhir. Apalagi yang ngeh, kalau ternyata tulisan ini cukup panjang. Itulah waktu, itulah cerita. Bisa terlupakan, namun gue rasa waktu senang jika ia dilupakan kita untuk hal yang baik. Mungkin seperti definisi "Biarlah waktu yang menjawab". Eh nyambung gak sih.